1
Tubuh ini nyaris belulang dimakan rindu. Aku tak bisa membunuh diriku dengan wajahmu. Kutelan perlahan sisa sisa pertemuan dan segala yang tak bisa dinikmati. Aku hidup kembali setelah sebagian usia mati suri. Sebagian kematian, aku pernah mencatat banyak rencana dalam bait puisi, di notebook juga di wall facebook. Tetapi alun alun dan pasar baru mencoret sebagian catatan kita menuju Moskow. Rubel telah habis sebelum membeli jaket musim dingin, celana dalam dan kerudung yang sering kau tanggalkan.
2
Lagakmu bahkan seperti Wilhelmina. Aku adalah lelaki yang terlanjur menaburi halam rumahmu dengan banyak cinta, dihuni ribuan piranha. Rumahku tanah lindap digenangi darah, darah dalam musim yang nanar dan buyar sejak beberapa panglima besar menjemputmu. Aku pernah mengunci diri dalam terik wajahmu dan tuhan tenggelam di balik hasrat hasratku. Hingga aku tertuduh sebagai sunyi. Membatu. “Biarkan aku menjadi musim semi setelah hujan meyeka kita”
3
Tak ada wajah perempuan untuk ditangisi. Aku bisa membuka usia dengan musim semi. Lahir kembali setelah sunyi. Sunyi yang dimakan perempuan berduri. Lihatlah langit begitu lega tak berkabut, aku jadi lebih leluasa memandang cakrawala. Bambu bambu yang daunya bergetar serupa kor, mengalun harmoni dari pagi lalu malam berganti dan bertemu pagi lagi. Begitulah selanjutnya aku menikmati pagi. Aku berdansa dengan angin. Bernyanyi banyak lagu. Melompat-lompat dari bukit ke bukit lain menangkap seribu senyum untuk wajahku yang tak lagi bentuk wajahmu.
4
Tak ada wajah perempuan untuk ditangisi. Aku tak tersibukan lagi mengantarmu ke stasiun. Sudah saatnya waktu mengantarmu pergi. Jangan merasa sendirian lagi, biarlah deru mesin dan peluit masinis menjadi teman bla bla bla-mu dan biarkan pula para pengamen itu menggantikanku bernyanyi. Berjalanlah seperti lokomotif yang kita tumpangi, lurus menapaki rel dan arah kita masing masing adalah stasiun. Disana banyak kehidupan menunggu kita.
Tasikmalaya 2009-2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar