Rabu, 14 Juli 2010
MENDADAK BERSAJAK
satu
Bisakah kau bujuk pustakawan itu datang ke kamarku
Membereskan satu rak buku yang tak pernah kubaca
Lalu membacakan puisi perlahan menjelang tidur malam
Dan sesekali aku lupa baris yang dibacanya sesusai ia lafalkan
Berapa jarak kelupaanku pada puisi yang kau baca?
Sejajarkah dengan garis kerut di jidatku?
Pustakawan menjawab seadanya dengan hujan
Sebab ia turun dari awan yang berat berlayar di otakku
Seperti malaikat membawa sayapnya sebagai kitab puisi
dua
Lalu bisakah aku membaca kata-kata dalam sayapmu
Setelah seribu mimpi mengajariku puisi berbentuk narasi
Sebagian bait lagi dicarut marutkan dengan bentuk batu
Dilempar ke dinding kosong tak berwarna sebagai lirik
Berapa jarak ketidakberdayaanku pada puisi yang kau baca?
Sejajarkah dengan retak otakku yang ditikam para penyair?
Mataku kini berlendir tak ada tatapan pada apa yang dibaca
Bau anyir menyengat seluruh pemahamanku tentang kosa kata
Pada puisi yang kini masih menjadi lauk pauk di meja makanku
tiga
Seringkali aku belajar membuat puisi dari apa yang kumakan
Beberapa sayuran sehat seperti juga apa yang kau telan
Menyobek jambal roti agar puisiku bisa dipahami esok hari dengan santai
Besarannya cukup untuk dinikmati para pengunjung warung kopi
Haruskah kubuat beberapa resep sederhana dengan menuangkan garam dalam puisiku?
Nikmatkah hanya dengan selera itu seluruhnya kosong dilahap para penyair?
Puisi hanya akan jadi debu di padang tandus
Setelah matahari menyengat lekat keringatku
Kemudian hujan membuangnya di samudra lautan
empat
Kali ini aku bermain di padang tandus, seperti katamu
Beralihlah menjadi pembaca lagi seumpama puisiku hanya debu
Kotoran-kotoran yang ditulis akan ditiup angin fohn
Lalu sebait puisi telah tampak dalam kekosongan
Bisakah aku bertepuk tangan pada puisi yang ditemukan tanpa sengaja?
Nikmatkah makna dan seumpamanya diisi dari keterpaksaan angin yang hinggap?
Jika kemudian seseorang mengajukan pemujian atas puisiku
Bersiaplah menaruh pedang di lehernya sebagai pemujaan terdalam
Tebaslah hingga kulit dan urat-uratnya menitihkan darah sebagai tinta
lima
Suatu saat bukan lagi anggur yang dicicipi para satir itu
Kata-kata akan menjadi nafsu birahi dengan sendirinya
Juga darah perlahan membentuk huruf dan angka-angka
Sebab puisi lebih dari sekedar pelampiasaan keseharian kita
Siapkah puisiku kena kutukan jika suatu saat tak ada penyajian?
Berapakah rupa kembang yang harus dipersiapkan sebelum berpuisi?
Terimalah sesajen puisi dengan bentuk seadanya dengan rela
Ikhlas menjadi tanda bagaimana merangkai kata menjadi do’a-do’a
Biarkan dewa penyair membacanya agar tak jadi buta akasara
Tiga Raksa 13 Juli 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar