Rabu, 14 Juli 2010
MENGIKUTI JEJAKMU
Bermukim di kampungmu menjadi prasyarat tampaknya bulan pada malam-malam menjelang. Harum kasturi mencatat banyak rasa yang setahun ini masih menyisakan getahnya. Bisakah aku gila tanpa mengikuti jejakmu sebagai pembuka umur yang berkepanjangan karena pada akhirnya uban di rambutmu kini semakin ramai. Padahal kakiku masih berhenti di lampu stopan dekat pabrik-pabrik kendaraan. Sejak ku kenal dikau menjelang kepunahan kata-kataku. Lagi-lagi telunjukmu menjadi lengkung spektrum yang kutatap siang hari sejak hujan meniadakan kata-kata di balik langit. Maka aku takjub pada jemarimu yang berupaya melilit dari arah tak beraturan. “pek iuhan jalma nu sok maturan katumbiri ku jampe-jampe ngisyaratan ka Wélas Asih Gusti handapeun iuhna daun awi” suatu saat ketika tubuhku tersayu di bawah riuhnya daun bambu menjelang Dzuhur.
Kaca mata yang dikaitkan ketelingaku adalah merk tersohor yang sering dikenakan para pemain band di acara lipsing. Tetapi aku tak merasa menjadi penyanyi lagi. Setelah berupaya berjabat tangan pada telapakmu yang kasar dengan usia, penyair harus lebih bergengsi dari sekedar pembelot waktu belajar anak-anak kita. Saatnya mataku menonton metafora yang disajikan alam-alam liar. Kita bisa mencatat geliat pop dalam bait puisi dan rock n’ roll setelah the cangcuter perlahan mengurangi jadwal pentasnya di dahsyat, dering dan inbox pagi. “they said that rock n’ roll spreads in their soul”. Aku membenamkannya dalam lirik-lirik puisi agar tak basi dimakan birahi pagi.
Masuklah waktuku menjerat kata seperti sedia kau tuliskan di buku-buku. Kemarahan tidak disertakan dalam daratan, alirkan saja pada sungai yang akan membentang di luas samudra. Sebagai jamuan seumpama aku masih dendam dihinggapi bisikan-bisikan iklan yang betebaran sepanjang jalan. Teror apa saja yang membinasakan kami dengan bentuk produkmu. Kesekian kalinya aku mengikuti angguk wajahmu untuk bertamasya di lahan kosong, tinggal kuisi sedikit demi sedikit dengan bambu yang akarnya tertinggal di paduan alam lalu dan hari esok. Sejarahku akan dimulai sejak masehi dan lalu lalangnya kabel-kabel di bawah bumi. Sampai kapanpun sebaitku puisi akan mengikuti jejakmu ketika mereka tak mengenalku sebagai manusia.
Tiga raksa, Juli 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar