Seragam yang sekarat. Aku dihukum peradaban
dengan sisa air liurnya. menjadi porselen.
Pejabat-pejabat malas mencuci seragam.
Mereka yang jatuh di medan perang.
Negri-negri sempoyongan tak membaca pusaka
Tak dirajut bintang-bintang yang purwa.
Demikian pula aku mengeja banyak huruf dalam berita
Tidur. Memanjakan perut-perut babi yang mati
Seragamku pusaka yang dihadiahi janda-janda.
Ingin melumat darah yang menetes dalam bendera
adalah keringat yang jatuh sehabis perang
para pemabuk yang lupa darahnya muncrat dalam seragam
Skak mat!
Tak ada tempat bagi seragam yang sekarat
tak ada yang tergoda menyelamatkan tanda
indonesia warisan ibu pertiwi yang janda
setelah perang reda, setelah lagu-lagu dilipsingkan
Negriku seperti lirik yang mudah dibaca lawan
Setiap hari. Matahari selalu mengambil bagian
Cuaca tentu saja menaungi setiap seragam yang dibersihkan
Juga negri yang manggut-manggut dibelakangnya
Menghancurkan sisa darah-darah amis yang ditebar sepanjang seragam
Sehabis perang. Setibanya kita dalam kemerdekaan.
Apa yang diperjuangkan tuan-tuan?
Tiga raksa, 7 juli 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar