Ku sebut dirimu Ophelia yang mati dalam lukisan.
Daun-daun bertaburan sepanjang sungai mengalir seperti bangkai dan aku menemukanmu, menggusur tubuh itu ke dalam luka yang masih menganga. Gaun perempuan masih bercak-bercak bau amis darah dan tubuh Ophelia hanyut dalam sungai penuh luka. Mata terpejam dan mulut seperti berteriak memanggil malaikat untuk cepat meminta nyawa.
Oh.. Ophelia aku dihadapkan pada tubuhmu yang masih kaku menunggu waktu di dunia yang tanah dan sungai ini bukan lagi kain kanvas, kedukaan menjelma ketika aku dimatikan oleh perempuan sepertimu. Mengapa ia menjadi begitu beku? Darah yang menggumpal kaku, tak ada cahaya yang bisa membuat hatimu luruh sehingga kau menyadari betapa aku selalu disakiti dalam setiap kematian hasrat-hasratmu.
Bandung 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar