Rabu, 30 Juni 2010

Penyair



(dalam adegan kemenangan pinangan)

seperti inilah aku diajarkan puisi
setia pada apa yang ditulisnya
menjadi lebih empati dan percaya diri
kau masih berlindung di rerimbunan kata-kataku yang sayu
meski belati lelaki itu menyengat tubuhku dari arah tak siaga
aku tak pernah mau mencabut cinta dalam hati yang ku sapa
kita telah berakraban, berjabat rasa menuju pinangan
jangan mau menjadi pecundang yang sembunyi di balik pedang
sebab, aku percaya kematian bukan ditangan selain Tuhan
dimanapun akhirnya aku menjadi bangkai
jangan anggap aku menyerah pada lelaki sepertinya
meludah pada darah sendiri dan meminumnya
aku tak membaui masa lalumu sebagai kegelapan
aku lebih suka memburu cinta yang dipahat dalam dada
hingga kita tak pernah berkenalan dengan rayap-rayap dan semacamnya
meruntuhkan keyakinan yang telah dibangun dalam hati kita
apa saja yang dia sebut sebagai kemuntahan hasrat
kita bisa menyembuhkan luka dengan rasa yang kita punya
sepertinya, aku semakin mantap memilihmu
bersenjatakan puisi yang berempati
menjadi sepasang kekasih sampai mati

SEPANJANG INSOMNIA, AKU MENGINTIPMU

Aku mengintipmu lagi
Lewat aroma rokok
Yang sama-sama kita icip
Pada ujung batang putih langsing

Satu malam yang tanganmu dingin menggenggamku
Menyebrangi jalan dan hinggap ke ruang hedonis
Lalu kau berkata:
Kita melawan kode etik penyair
Lebih baik cari saja ruang seduh
Melawan batasbatas yang melelahkan

Di lentik alismu
Aku menebak candu
tentang seorang penyair
Menggelitik waktu untuk berhenti
Dan ngisap lagi batang batang baru

Akankah kau datang
Ke lorong rindu
Tanpa mengganggu istriku tidur
Menyelinap ke pintu belakang
Setelah garis tangan itu
Membuka jalan menuju cinta
sementara
sepanjang insomnia
Aku masih mencium aroma
Dari ujung yang mengintipmu

“Bandung 24 Mei 2009”