Rabu, 14 Juli 2010

SERAGAM YANG SEKARAT

Seragam yang sekarat. Aku dihukum peradaban
dengan sisa air liurnya. menjadi porselen.
Pejabat-pejabat malas mencuci seragam.
Mereka yang jatuh di medan perang.
Negri-negri sempoyongan tak membaca pusaka
Tak dirajut bintang-bintang yang purwa.

Demikian pula aku mengeja banyak huruf dalam berita
Tidur. Memanjakan perut-perut babi yang mati
Seragamku pusaka yang dihadiahi janda-janda.
Ingin melumat darah yang menetes dalam bendera
adalah keringat yang jatuh sehabis perang
para pemabuk yang lupa darahnya muncrat dalam seragam

Skak mat!
Tak ada tempat bagi seragam yang sekarat
tak ada yang tergoda menyelamatkan tanda
indonesia warisan ibu pertiwi yang janda
setelah perang reda, setelah lagu-lagu dilipsingkan
Negriku seperti lirik yang mudah dibaca lawan

Setiap hari. Matahari selalu mengambil bagian
Cuaca tentu saja menaungi setiap seragam yang dibersihkan
Juga negri yang manggut-manggut dibelakangnya
Menghancurkan sisa darah-darah amis yang ditebar sepanjang seragam
Sehabis perang. Setibanya kita dalam kemerdekaan.
Apa yang diperjuangkan tuan-tuan?

Tiga raksa, 7 juli 2010

MENGIKUTI JEJAKMU


Bermukim di kampungmu menjadi prasyarat tampaknya bulan pada malam-malam menjelang. Harum kasturi mencatat banyak rasa yang setahun ini masih menyisakan getahnya. Bisakah aku gila tanpa mengikuti jejakmu sebagai pembuka umur yang berkepanjangan karena pada akhirnya uban di rambutmu kini semakin ramai. Padahal kakiku masih berhenti di lampu stopan dekat pabrik-pabrik kendaraan. Sejak ku kenal dikau menjelang kepunahan kata-kataku. Lagi-lagi telunjukmu menjadi lengkung spektrum yang kutatap siang hari sejak hujan meniadakan kata-kata di balik langit. Maka aku takjub pada jemarimu yang berupaya melilit dari arah tak beraturan. “pek iuhan jalma nu sok maturan katumbiri ku jampe-jampe ngisyaratan ka Wélas Asih Gusti handapeun iuhna daun awi” suatu saat ketika tubuhku tersayu di bawah riuhnya daun bambu menjelang Dzuhur.

Kaca mata yang dikaitkan ketelingaku adalah merk tersohor yang sering dikenakan para pemain band di acara lipsing. Tetapi aku tak merasa menjadi penyanyi lagi. Setelah berupaya berjabat tangan pada telapakmu yang kasar dengan usia, penyair harus lebih bergengsi dari sekedar pembelot waktu belajar anak-anak kita. Saatnya mataku menonton metafora yang disajikan alam-alam liar. Kita bisa mencatat geliat pop dalam bait puisi dan rock n’ roll setelah the cangcuter perlahan mengurangi jadwal pentasnya di dahsyat, dering dan inbox pagi. “they said that rock n’ roll spreads in their soul”. Aku membenamkannya dalam lirik-lirik puisi agar tak basi dimakan birahi pagi.

Masuklah waktuku menjerat kata seperti sedia kau tuliskan di buku-buku. Kemarahan tidak disertakan dalam daratan, alirkan saja pada sungai yang akan membentang di luas samudra. Sebagai jamuan seumpama aku masih dendam dihinggapi bisikan-bisikan iklan yang betebaran sepanjang jalan. Teror apa saja yang membinasakan kami dengan bentuk produkmu. Kesekian kalinya aku mengikuti angguk wajahmu untuk bertamasya di lahan kosong, tinggal kuisi sedikit demi sedikit dengan bambu yang akarnya tertinggal di paduan alam lalu dan hari esok. Sejarahku akan dimulai sejak masehi dan lalu lalangnya kabel-kabel di bawah bumi. Sampai kapanpun sebaitku puisi akan mengikuti jejakmu ketika mereka tak mengenalku sebagai manusia.

Tiga raksa, Juli 2010

MENDADAK BERSAJAK



satu

Bisakah kau bujuk pustakawan itu datang ke kamarku
Membereskan satu rak buku yang tak pernah kubaca
Lalu membacakan puisi perlahan menjelang tidur malam
Dan sesekali aku lupa baris yang dibacanya sesusai ia lafalkan

Berapa jarak kelupaanku pada puisi yang kau baca?
Sejajarkah dengan garis kerut di jidatku?

Pustakawan menjawab seadanya dengan hujan
Sebab ia turun dari awan yang berat berlayar di otakku
Seperti malaikat membawa sayapnya sebagai kitab puisi

dua

Lalu bisakah aku membaca kata-kata dalam sayapmu
Setelah seribu mimpi mengajariku puisi berbentuk narasi
Sebagian bait lagi dicarut marutkan dengan bentuk batu
Dilempar ke dinding kosong tak berwarna sebagai lirik

Berapa jarak ketidakberdayaanku pada puisi yang kau baca?
Sejajarkah dengan retak otakku yang ditikam para penyair?

Mataku kini berlendir tak ada tatapan pada apa yang dibaca
Bau anyir menyengat seluruh pemahamanku tentang kosa kata
Pada puisi yang kini masih menjadi lauk pauk di meja makanku

tiga

Seringkali aku belajar membuat puisi dari apa yang kumakan
Beberapa sayuran sehat seperti juga apa yang kau telan
Menyobek jambal roti agar puisiku bisa dipahami esok hari dengan santai
Besarannya cukup untuk dinikmati para pengunjung warung kopi

Haruskah kubuat beberapa resep sederhana dengan menuangkan garam dalam puisiku?
Nikmatkah hanya dengan selera itu seluruhnya kosong dilahap para penyair?


Puisi hanya akan jadi debu di padang tandus
Setelah matahari menyengat lekat keringatku
Kemudian hujan membuangnya di samudra lautan

empat

Kali ini aku bermain di padang tandus, seperti katamu
Beralihlah menjadi pembaca lagi seumpama puisiku hanya debu
Kotoran-kotoran yang ditulis akan ditiup angin fohn
Lalu sebait puisi telah tampak dalam kekosongan

Bisakah aku bertepuk tangan pada puisi yang ditemukan tanpa sengaja?
Nikmatkah makna dan seumpamanya diisi dari keterpaksaan angin yang hinggap?


Jika kemudian seseorang mengajukan pemujian atas puisiku
Bersiaplah menaruh pedang di lehernya sebagai pemujaan terdalam
Tebaslah hingga kulit dan urat-uratnya menitihkan darah sebagai tinta

lima

Suatu saat bukan lagi anggur yang dicicipi para satir itu
Kata-kata akan menjadi nafsu birahi dengan sendirinya
Juga darah perlahan membentuk huruf dan angka-angka
Sebab puisi lebih dari sekedar pelampiasaan keseharian kita

Siapkah puisiku kena kutukan jika suatu saat tak ada penyajian?
Berapakah rupa kembang yang harus dipersiapkan sebelum berpuisi?

Terimalah sesajen puisi dengan bentuk seadanya dengan rela
Ikhlas menjadi tanda bagaimana merangkai kata menjadi do’a-do’a
Biarkan dewa penyair membacanya agar tak jadi buta akasara

Tiga Raksa 13 Juli 2010