Minggu, 26 September 2010

SAJAK DALAM MATA

Segala kedipku adalah kata-kata
Menyimakmu dari arah mata berbeda

Dan selalu sajak yang mengundang kita
Pada setiap bait yang belum pernah jumpa

Sedang, yang kumaknai adalah isyarat tentang dunia
Dalam sederet kata yang dipadukan menjadi perjumpaan

Maya adalah dunia yang tak berjarak bagi kita
Sebab sajak selalu dibaca dengan jejak kita

--sajakku selalu ingin mereda semesta
namun biarlah matamu saja
yang membaca

Kau adalah bait pertama
Biarlah aku menjadi bait sesudahnya

2010

KU SEBUT DIRIMU OPHELIA

Ku sebut dirimu Ophelia yang mati dalam lukisan.
Daun-daun bertaburan sepanjang sungai mengalir seperti bangkai dan aku menemukanmu, menggusur tubuh itu ke dalam luka yang masih menganga. Gaun perempuan masih bercak-bercak bau amis darah dan tubuh Ophelia hanyut dalam sungai penuh luka. Mata terpejam dan mulut seperti berteriak memanggil malaikat untuk cepat meminta nyawa.

Oh.. Ophelia aku dihadapkan pada tubuhmu yang masih kaku menunggu waktu di dunia yang tanah dan sungai ini bukan lagi kain kanvas, kedukaan menjelma ketika aku dimatikan oleh perempuan sepertimu. Mengapa ia menjadi begitu beku? Darah yang menggumpal kaku, tak ada cahaya yang bisa membuat hatimu luruh sehingga kau menyadari betapa aku selalu disakiti dalam setiap kematian hasrat-hasratmu.

Bandung 2010

Braga

Bilur-bilur sisa percakapan tampak dalam ingatan kita
Lihatlah bulan penuh kanji, masih diantara semak-semak langit
Kita membuat adonan paling lezat dengan saling pandang
Separuh kenangan masih tergulung di lipatan malam

Di Braga Mata kita kabur ketika malam habis berduaan
Asap menthol di bibirmu, kretek di bibirku
Menduga-duga siapakah bibir yang paling manis
Ketika senyum saling serang melempar asap pada bulan

Tiga raksa, 28 agustus 2010